Cara Menjadikan Diri Kita Lebih Baik
2877-Your self.jpg

“I just want to be myself.” Kalimat ini sudah sering kita dengar. Baik itu di film-film maupun dalam lirik lagu-lagu populer. Banyak orang bahkan menaruh kalimat-kalimat variasi dengan arti yang senada pada profil Facebook, Twitter, atau sosial media lainnya. Seolah-olah itu adalah sebuah informasi yang sangat penting sehingga semua orang harus tahu.



Banyak orang yang bertanya, bagaimana memperbaiki dan meningkatan kesejahteraan kehidupan? dan selalu jawabannya adalah: “Kamu harus berubah! Ubah pola pikir, ubah sikap, ubah kebiasaan, ubah diri kamu seluruhnya.” Yang terjadi berikutnya sudah hampir bisa ditebak, mereka menjawab: “Saya tidak ingin jadi orang lain, saya ingin jadi diri saya sendiri.”



Kalau kita cermati, kalimat itu sebenarnya merupakan sesuatu yang aneh, karena hanya ada 2 alasan seseorang mengucapkan kalimat seperti itu: Pertama, dia tidak mengerti mengenai konsep diri sendiri yang sesungguhnya. Kedua, kalimat tersebut hanyalah sebuah alasan pembelaan diri belaka, padahal alasan sesungguhnya adalah rasa takut dan tidak nyaman bila harus melakukan sebuah perubahan.


Jangan Lupa Untuk Bercermin

Kita tahu bahwa sebuah perubahan itu memang tidak nyaman, kita lebih mudah berada pada posisi yang sama dari pada harus mengeluarkan energi untuk berubah. Oleh karena itu sewaktu muda dulu beberapa diantara kita sangat jaim di depan wanita, terjangkit virus ngarep (berharap) kronis, dan mengalami kegagalan demi kegagalan, tapi kita tetap ngotot dengan prinsip "This is me! This is who I am! Ini diri saya apa adanya, dan saya ingin wanita yang mencintai saya apa adanya!" Waktu itu kita sama sekali tidak mengerti bahwa untuk dicintai wanita apa adanya, kita harus menjadi pria yang MEMANG LAYAK dan BISA dicintai terlebih dahulu.

 

Maka, yang harus kita lakukan adalah bercermin dan merefleksi seperti apa diri kita saat ini sebenarnya, apakah kita sudah layak, apakah kita sudah mapan dan apakah kita sudah menjadi orang yang baik sehingga kita bisa diterima orang lain dengan baik juga.

 

Jika jawaban dari beberapa pertannyaan diatas adalah belum, maka suka tidak suka kita harus berubah.



Kenali Diri Kita

Bagi yang masih menganut prinsip “jadi diri sendiri”, maka kita perlu untuk kembali bertanya: Siapakah diri kita yang sebenarnya?


Apakah kita sungguh mengerti dan mengenal diri kita sendiri? Bila kita tahu siapa diri kita sebenarnya, maka kita tidak akan mengeluarkan kalimat “Jadi diri sendiri.” Kenapa? karena manusia adalah mahluk pembelajar. Setiap bayi lahir bagai kertas putih, begitupun kita. Kita tidak akan mengerti apapun apabila tidak ada yang mengajarkannya pada kita, entah itu dari keluarga, lingkungan, media informasi. Apa yang kita ketahui  tentang cinta, tentang apa itu pacaran, apa itu persahabatan, kekayaan, agama, dan segala macam hal lainnya, SEMUA itu kita dapatkan dari sumber lain yang berasa di luar diri kita!


Dengan kata lain: apapun kepercayaan, pola pikir, kebiasaan, sifat, pembawaan, dan seluruh sikap kita, semua itu hanyalah produk dari budaya, lingkungan sosial, dan pembelajaran yang kita lakukan. Seandainya kita tidak lahir di Indonesia, katakanlah di India misalnya, maka sudah pasti “diri” kita akan berbeda. Kita kemungkinan besar akan beragama Hindu yang percaya bahwa sapi adalah hewan keramat, dan gemar bernyanyi sambil menari di bawah pohon sambil hujan-hujanan. (hehehe film banget :-) )


Jadi, kalau seluruh “diri” kita sangat tergantung pada budaya, lingkungan dan informasi yang kita terima, lalu siapakah diri kita yang sesungguhnya? Apakah semua sifat, sikap, dan kebiasaan kita adalah benar-benar diri kita? Mengapa kita bisa bersikap berbeda ketika berada dalam situasi yang berbeda? Apakah  kalimat “just be yourself” masih memiliki makna yang berarti?


Coba dipikirkan, meskipun banyak hal permanen dalam diri kita yang ditentukan oleh genetik dan kelahiran, tapi kita tidak dilahirkan langsung seperti diri kita yang sekarang.


Diri kita Yang Sebenarnya

Tidak ada bayi yang lahir pemalu, pendiam, dan minder. Semua bayi jago menangis, berteriak, dan jelas tidak kenal malu atau minder. Apabila kita sekarang merasa diri kita seperti itu: pemalu, pendiam, minder, tidak mau merubah penampilan, dan tidak berani mempraktekkan apa yang sudah kita baca, maka itu bukanlah diri kita yang sesungguhnya!

Kita menjadi pendiam, pemalu, dan minder, karena kita telah belajar, melatih dan terbiasa melakukan hal tersebut tanpa kita sadari sepanjang hidup! Dengan kata lain, kita sudah menjadi seorang ahli dan jagoan dalam hal grogi, gugup, dan kaku.

Diri kita sekarang hanyalah hasil dari pengaruh budaya, lingkungan sosial dan pembelajaran kita, dan itu berarti bahwa sebenarnya “diri” kita tidaklah permanen dan bisa berubah menjadi seperti apapun yang kita inginkan. Kita memiliki potensi yang luar biasa dan tidak terbatas, tergantung dari apa yang kita terima dan pelajari.

Itu sebabnya, prinsip “be yourself”  adalah prinsip kuno yang sudah usang. Sebuah pembenaran diri atas kemalasan dan rasa takut yang menghambat diri kita meraih potensi maksimal. Itu yang menyebabkan kita hanya membaca artikel saja tapi tidak pernah melakukan apa-apa, karena merasa tidak nyaman dan bersembunyi dibalik kalimat, “Menjadi diri sendiri.”

Be Your Best Self!

Sebuah prinsip yang jauh lebih baik dan yang akan membakar semangat kita adalah: BE YOUR BEST SELF! Jadilah diri kita yang TERBAIK! Tanamkan ini dalam pikiran kita kuat-kuat.

Pikiran menentukan tindakan, tindakan menentukan hasil. Apabila kita berpikir bahwa bersekolah dengan baik akan membuat kita merasa bangga dan membawa kita pada kesuksesan, maka kita akan belajar dengan tekun dan memperoleh nilai bagus. Sebaliknya, bila kita berpikir sekolah itu membosankan dan tidak ada gunanya, maka kita akan malas-malasan, yang penting lulus dengan nilai seadanya.

Apabila kita berpikri bahwa kita hanya ingin menjadi “diri sendiri apa adanya” dan tidak mau melakukan perubahan apapun, maka wajar saja bila kita hanya mendapatkan “apa adanya” saja dalam kehidupan keluarga, pergaulan sosial, karir, akademis,dan segala aspek dalam hidup kita.

Apakah kita sudah puas dengan diri kita yang sekarang? Apakah kita sudah menjadi diri kita yang terbaik? Apakah kita sudah memiliki penampilan, pola pikir, informasi, sikap, sifat, pembawaan, sahabat, dan lingkungan yang terbaik bagi diri kita?

Bila jawabannya adalah SUDAH, maka saya ucapkan selamat! apabila jawaban kita adalah BELUM, maka ini saatnya membuang prinsip kita yang lama dan mengambil keputusan untuk memulai langkah menjadi diri kita yang TERBAIK. 

Apabila kita sudah menjadi diri kita yang TERBAIK maka sudah pasti kita hanya akan mendapatkan karir, kehidupan keluarga dan pergaulan sosial yang TERBAIK yang layak kita dapatkan. Karena itu memang sudah HAK kita, sobat.. logis, kan?

Menjadi diri yang terbaik adalah sebuah perjalanan panjang. Memang tidak mudah, tetapi tetap harus kita lakukan karena tanpa kita sadari waktu yang kita miliki akan semakin habis jika tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Salam untuk ANDA YANG TERBAIK

 

Chania
   52
 
gmbr
Cinque Terre

img img img img
img
img
www.000webhost.com