Cara Membuat Produk Yang Sukses Di Pasar
629-customer-liability-in-the-age-of-digital-banking.jpg

Pada tahun 1980, tiga orang engineer di Amerika bernama Ben Bertiger, Raymond Leopold dan Ken Peterson mengembangkan sebuah system telekomunikasi ampuh yang akan membuat semua manusia di permukaan bumi bisa saling menghubungi dengan mudah menggunakan jaringan satelit. Mereka menghitung bahwa jumlah satelit yang dibutuhkan ternyata ada 77 (untuk mengcover seluruh permukaan bumi). Maka mereka menamakan system ini Iridium (sesuai dengan nama unsur ke 77 di tabel periodik kimia). Ide brilliant, dan maka para investor pun menyetorkan ratusan juta dolar modal. Akhirnya sistem ini dilaunching dengan heboh , bahkan oleh president USA pada waktu itu.

Beberapa tahun kemudian, Ternyata .....

- system nya kurang bisa dikitalkan

- call menggunakan jaringan ini sangat lelet

- beberapa area susah dicover

- harga handset dan call nya sangat mahal

 

Dan para investor Iridium pun menelan pil pahit. Iridium dinyatakan bangkrut. Begitulah kadang kadang kalau para enterpreneur punya ide yang (secara teknis) bagus, tetapi tidak berfikir secara  bisnis. Dan banyak contoh lain dari product product technology yang kelihatannya bagus banget secara teknis, para enterpreneur itu akan dengan bangganya memamerkan kepada teman-temannya, kepada investor, bahkan di depan panggung besar pameran teknology. Tetapi kemudian pada saat diluncurkan ternyata hanya  bisa menghabiskan modal para investor, dan customer ternyata tidak tertarik dengan productnya.

 

Kita dengar cerita Jeff Bezos, dia adalah seorang Insinyur Elektro juga (lulusan dari Princeton University). Setelah lulus dari kuliah, dia tidak buru-buru menjadi enterpreneur (hahahaha, memangnya di Indonesia, belum punya skills, sudah bermimpi mau jadi enterpreneur? ). Anyway, Jeff berfikir bahwa setelah lulus teknik, sebaiknya dia bekerja dulu menjadi investment banker di sebuah bank besar di Wall Street. Tidak tanggung-tanggung, 8 tahun dia  bekerja di  bank itu. Tentunya bekal 8 tahun sebagai seorang investment banker semakin memperkaya kompetensinya, dan menambah mantap systematic thinking yang dia pelajari sewaktu kuliah di Electro. Akhirnya dia pun bermimpi membuat sebuah bisnis yang baru berbasis teknology. Dan kemudian dia pun berfikir dengan urut-urutan seperti ini:

- bisnis apa yang akan dibutuhkan dan disukai customer?

- bisnis apa yang akan mendatangkan profit secara long term?

- bisnis apa yang secara teknology bisa direalisasikan?

 

Lihat kan bagaimana urutan pemikiran Jeff? Sementara insinyur lain (yang tidak pernah belajar bisnis) akan berfikir secara teknologi dulu, kemudian profit, dan banyak yang tidak pernah memikirkan customer 

 

Dari pemikiran itu, Jeff berfikir bahwa Internet akan mengalami booming, tetapi  Jeff tidak terburu buru langsung membuat product canggih dengan berbasis Internet. Jeff berfikir kira-kira product apa yang berpotensi untuk membuat customernya bilang "WOW" karena sangat kagum. Akhirnya Jeff melihat potensi pada pembuatan toko buku.  Customer pasti akan kagum kalau mereka mempunyai pilihan dari jutaan buku, dan customer pasti akan lebih suka lagi kalau hanya dengan beberapa "click" di computer mereka, buku itu akan tiba di rumah keesokan harinya. Dan Jeff pun bekerja keras untuk membuat toko buku On Line yang paling sukses di dunia (Amazon). Itu karena dia mulai berfikir dengan apa yang dibutuhkan customer. Bukan memulai dengan "apa yang saya punya" dan bagaimana menjualnya ke customer!

 

Seringkali kita merasa bahwa kita lagi “punya” product yang hebat dan keren, kita bangga ketika kita mampu memberikan produk terbaru. Hanya saja, sebelum launching ke market, pastikan kita mengikuti langkah-langkah ini ....

 

1. Pahami relevansi dan pembeda Produk kita dengan yang lain

Pastikan bahwa product kita memang relevan saat ini dan memang dibutuhkan pelanggan kita. Tentu nya saat ini di market sudah ada product yang sejenis dengan yang kita punya, atau paling tidak bisa menjadi pengganti product kita saat ini, pastikan  bahwa product kita mempunyai "pembeda" yang akan membuat pelanggan kita "switch" dari product yang biasa mereka gunakan selama ini.

 

2. Jangan mudah puas dengan hasil kita, tetapi ubah persepsi kita dari apa yang dilihat pelanggan

Sekarang kita berganti posisi dan menjadi pelanggan kita. Tanyakan kepada kita sendiri (sebagai customer), apakah product kita cukup menarik, menjawab kebutuhan kita dan kita memang akan bersedia berpindah dari product atau service yang selama ini kita gunakan. Dalam kasusnya Amazon, tentu saja customer akan bersedia membeli dari Amazon dan tidak lagi pergi ke toko buku karena beli di Amazon lebih praktis, menghemat waktu kita dan kita punya lebih banyak pilihan (Gak mungkin ada toko buku yang akan punya stock 12 juta buku seperti Amazon), Dan dengan ketiga keuntungan tersebut (praktis, waktu, pilihan), akhirnya memang banyak yang berpindah dari toko buku tradisional ke Amazon. Dan akhirnya memang banyak toko buku di Eropa dan Amerika pun tutup!

 

3. Pikirkan, bagaimana kita membuat konsumen kita berkata”WOW”

Kita suka makan kue coklat? Saya juga! Dan kue coklat yang enak memerlukan kue cherry merah di atasnya sebagai pelengkap. Agar yang makan kue bisa bilang "WOW" dengan penuh kekaguman. Product dan jasa kita juga demikian. Mestinya kita tidak puas dengan fungsional aspek yang berjalan lancar. Kita memerlukan WOW effect, sesuatu yang tadinya tidak diharapkan customer kita, tapi kemudian membuat customer kita kagum, dan langsung berpindah dari competitor kita ke kita. Dalam kasusnya Amazon, wow effectnya (selain bahwa membeli buku bisa lebih "praktis", menghemat waktu dan punya banyak pilihan), adalah juga fakta bahwa dengan hanya beberapa click di computer kita, buku itu akan datang keesokan harinya. WOW!

 

 4. Komunikasikan pesan yang konsisten ke pelanggan dan karyawan

Sekarang, kita sudah jelas tentang apa saja yang menjadi pembeda kita. Pada saat ini mestinya kita bisa menjawab 3 pertanyaan ini...

- Kenapa product kita relevant?                                                                    

- Apa yang menjadi differentiator kita? (mengapa customer kita akan switch dari product lain ke kita)

- Apa yang menjadi wow factor kita? (Apa yang akan membuat customer kita kagum, dan kalau perlu, akan membayar bahkan lebih mahal daripada product lainnya?)

 

Jawaban dari pertanyaan itu harus dikemas dalam message yang consisten dan kita kirimkan ke semua orang, baik itu di dalam perusahaan (seluruh karyawan kita) maupun keluar (seluruh partner, supplier dan customer kita).

 

5. Kombinasikan produk “WOW” kita dengan pengalaman yang luar biasa

Kita sudah punya great product, kita sudah mengerti differentator dan wow effectnya. Terakhir, kita harus make sure bahwa customer juga mempunyai great experience. Dari segi kemudahan pemakaian, kenyamanan, dan segala aspeknya termasuk service dan support bilamana diperlukan. Pada akhirnya, pelanggan kita akan melihat tentang pengalaman secara keseluruhan menggunakan produk kita.

 

Salam Hangat, Pambudi Sunarsihanto

Chania
   41
 
gmbr
Cinque Terre

img img img img
img
img
www.000webhost.com