Cara Berkontribusi Untuk Indonesia Tercinta
5858-IMG_4245.jpg

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sudah selayaknya kita memberikan kontribusi terbaik kita untuk negeri. Kenapa kita harus berkontribusi? Jawabanya adalah karena negeri kita ibarat kapal, yang sedang kita naiki ditengah laut dengan hantaman ombak dan badai, jika tiap orang yang ada di dalam kapal tidak memberikan usaha terbaiknya untuk menjaga keseimbangan kapal maka kapal dapat karam sewaktu-waktu.

 

Memberikan usaha untuk membangun negeri sama artinya dengan menjaga keseimbangan hidup agar tetap dapat berjalan dengan baik, karena tidak mungkin kita dapat hidup dengan baik (sejahtera) jika negeri yang kita tempati sedang terpuruk dalam krisis, entah krisis ekonomi, krisis energi atau krisis yang lainnya. Dengan memberikan kontribusi positif untuk negeri, keberlangsungan hidup anak dan cucu kita dapat terus terjamin. Kita tidak dapat memungkiri bahwa apa yang sudah kita rasakan saat ini (jalan raya yang baik, komunikasi lancar, BBM, listrik, gas dll) merupakan hasil dari jerih payah para pendahulu kita dalam memberikan kontribusi untuk negeri.

 

Lantas apa yang dapat kita berikan untuk negeri? Jawabanya banyak, tergantung kemampuan kita masing-masing. Jika kita membayangkan kontribusi untuk negeri adalah sesuatu yang hebat sehingga banyak orang yang berdecak kagum, maka kita tidak akan pernah melakukan apapun.

 

Berkontribusi untuk negeri dapat dimulai dengan hal-hal kecil namun berdampak positif. Ikut dalam acara kerja bakti dikampung adalah wujud nyata berkontribusi untuk negeri, meramaikan acara 17-an baik menjadi panitia maupun peserta lomba, menyanyikan lagu kebangsaan, membacakan proklamasi sehingga orang selalu ingat dengan tekad bulat bangsa indonesia untuk merdeka, atau bahkan dengan membuang sampah dan tidak merokok sembarangan adalah wujud nyata kontribusi untuk negeri.

 

Sampah adalah beban, pemerintah harus menyediakan tukang sampah, truk sampah, pengolah sampah hingga lahan yang luas untuk tempat pembuangan sampah. Meminimalkan sampah yang kita buang dan membiasakan buang sampah pada tempatnya sudah pasti meringankan beban pemerintah. Penanganan orang sakit juga beban pemerintah, pemerintah harus menyediakan rumah sakit, mensubsidi obat, membayar dokter, hingga menyediakan sistem jaminan kesehatan untuk menjaga agar kita tetap sehat. Jika sakit yang kita alami adalah karena kesengajaan (merokok) maka sebenarnya kita sedang menambah beban pemerintah. Oleh karena itu stop merokok adalah salah satu wujud nyata berkontribusi untuk negeri. Gampangkan berkontribusi untuk negeri?

 

Hal-hal diatas merupakan contoh sederhana yang terkadang kita sepelekan. Kita malas untuk ikut kerja bakti atau acara 17-an hanya karena kita asyik dengan nonton tv atau main game. Padahal, jika kita sedikit menengok keluar, ada banyak sekali orang-orang hebat yang mau bersusah payah berkontribusi untuk negeri, mengeluarkan pikiran, biaya dan usaha terbaik tanpa pamrih untuk negeri kita tercinta.

 

Sebagai contoh, seorang pria bernama Marsellinus Wellip. Marsellinus atau yang akrab disapa Marsel adalah putra Papua kelahiran Distrik Web. Menjadi mantri adalah cita-cita Marsel sejak masih belia setelah ia menyaksikan seorang mantri merawat ayahnya yang sakit keras tanpa pamrih.

 

Sebagai mantri yang telah diangkat menjadi PNS, Marsel sebenarnya bisa mengabdi di Keerom, namun dirinya terpanggil untuk mengabdi di Distrik Towe yang letaknya sangat jauh dan suilt di capai. Hanya ada dua altertatif untuk sampai di Distrik Towe. Pertama dengan carter pesawat yang membutuhkan biaya 21 juta atau dengan berjalan kaki selama 4 hari dari Distrik Web. Tentu saja Marsel telah berkali-kali melalui jalur darat menembus hutan belantara tropis dan menyeberangi sungai-sungai besar. Bagi Marsel, beratnya medan yang dihadapi bukan kendala yang menyurutkan semangatnya. Tekadnya sudah bulat, yaitu ingin mengabdikan diri untuk negeri melayani masyarakat Distrik Towe yang terisolasi dan memiliki pengetahuan serta kesadaran yang rendah terhadap kesehatan.

 

Kisah lain adalah Ratna Indah Kurniawati. Wanita berusia 34 tahun yang berprofesi sebagai perawat ini merasa kasihan melihat para mantan penderita kusta yang hampir semuanya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Banyak mantan penderita kusta yang dikucilkan oleh masyarakat. Dianggap masih dapat menularkan penyakit yang dideritanya, mantan penderita kusta pun kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain, bahkan hingga menyulitkan mereka untuk mendapat pekerjaan.

 

Ratna mendatangi ke rumah-rumah warga yang pernah mengidap kusta dan mendata mereka satu per satu untuk membentuk kelompok pemberdayaan. Pemberdayaan yang Ratna lakukan pada mantan penderita kusta ini ialah dengan memberikan mereka sebuah usaha untuk membantu membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Usaha tersebut adalah ternak jangkrik.

 

Tidak berhenti sampai di usaha ternak jangkrik, usaha pun berkembang pada usaha menjahit dan menyulam, serta usaha ternak kambing. Ratna mengungkapkan, pencapaian ini berhasil karena Ratna juga menjalin kerjasama dengan pengusaha lokal dan instansi terkait.

 

Ratna berhasil membuat para mantan penderita kusta dapat lebih produktif dan tidak malu lagi akan penyakit yang pernah dideritanya.

 

Jika mereka mampu berbuat lebih, kenapa kita tidak? Setiap kita adalah pribadi yang hebat, kita dilahirkan dengan kemampuan berfikir yang tak terbatas, kita juga dapat melakukan kontribusi positif yang bermanfaat untuk negeri kita tercinta, dari hal yang kecil dan dari lingkup yang kita bisa...Selamat berkarya..

Chania
   40
 
gmbr
Cinque Terre

img img img img
img
img
www.000webhost.com