Cara Menjadi Manusia Hijau
2623-manusia hjau.jpg

Saat ini banyak sekali tanda yang dapat kita rasakan bahwa bumi kita semakin panas, semakin kering dan semakin tidak bersahabat bagi kehidupan. Mulai dari udara yang sangat menyengat disiang hari, dingin yang menusuk dimalam hari, air yang semakin tipis di sungai sehingga banyak sawah kita yang kekeringan serta pohon-pohon yang terus saja meranggas. Beberapa kasus kesulitan air bersih banyak kita baca baik dari media cetak maupun elektronik, bahkan dampak yang sangat serius adalah hutan kita yang terus saja terbakar. Jika pohon kita semakin habis, baik karena penebangan maupun kebakaran hutan maka sumber air dan produksi udara bersih juga semakin berkurang. Dan jika air dan udara sudah tidak terpenuhi, sudah pasti dampak selanjutnya adalah habitat kehidupan yang akan terganggu.

 

Namun apa langkah yang sudah kita lakukan, belum ada! Ya, kita masih saja terbuai dengan kondisi toh masih ada air dirumah, padahal sungai kita sudah kering. Toh kita masih bisa menghirup udara padahal kepulan polusi dari kendaraan bermotor terus saja masuk keparu-paru kita, tiap hari. Toh masih ada AC yang bisa kita hidupkan ketika panas menyengat, padahal diluar ruangan kondensor AC membakar udara sehingga pohon didekatnyapun layu. Toh kita masih bisa hidup dengan kondisi ini, ya kita memang masih bisa bertahan namun apakah anak cucu kita bisa? Apakah anak cucu kita sanggup bertahan dengan kondisi yang mungkin akan 2 atau 3 kali lipat lebih panas dan kering dari saat ini?

 

Bicara tentang pohon, air dan udara memang bukan urusan yang terdengar canggih, ketika kita terhanyutkan oleh teknologi smartphone, komputer, internet, google, android, bbm, whatsapp dll, mungkin kata-kata pohon, air dan udara seolah sesuatu hal yang basi. Setidaknya jika kita hitung frekuensinya, mungkin hanya satu kali kita berbicara mengenai hal itu dalam sebulan atau bahkan setahun. Atau bahkan tidak pernah sama sekali. So we have to change our perspective, kita harus merubah pandangan kita mengenai hal itu, kita harus mulai untuk berfikir hijau (think green), berfikir hijau adalah mencurahkan pikiran agar kita dapat melestarikan lingkungan kita sehingga pohon, air dan udara beserta seluruh mahluk hidup yang ada didalamnya dapat terus hidup dan berkembang.

 

Lantas apa yang dapat kita lakukan? Banyak, namun sebaiknya kita mulai dari hal-hal kecil dan sederhana yang mudah kita lakukan. Kita dapat mulai dengan peduli terhadap pohon dan tumbuhan yang ada sekitar kita. Mungkin sebagian pohon itu tidak memiliki buah apapun sehingga terkesan tidak produktif, namun kita harus ingat bahwa setiap lembar daunnya adalah penghasil oksigen yang sangat berguna bagi paru-paru kita, kita juga harus ingat bahwa akarnya yang menghujam ke tanah adalah pengikat air hujan sehingga sumur disamping rumah kita tetap terisi air.

 

Hal penting yang harus kita ketahui adalah bahwa yang menampung air bukanlah pohon itu sendiri akantetapi tanah disekitarnyalah yang menyimpan air, akar pohon hanya membantu mengikat sehingga air tidak lari langsung menggalir ke sungai atau daratan yang lebih rendah. Jika sekitar rumah kita ada pohon namun tanahnya kita beton, aspal atau konblok, maka hal itu juga sama saja, air hujan akan langsung lari tidak dapat meresap ke tanah, tidak terikat oleh akar-akar pohon sehingga pantaslah jika musim kemarau tiba air sumur disamping rumah kita akan kering dan kita akan kesulitan air bersih. Karena air adalah sumber kehidupan, maka jika kita kesulitan air bersih sudah pasti aktifitas kehidupan kita akan sulit juga.

 

Maka mulailah untuk membuka sebagian dari halaman rumah kita, agar lebih indah mungkin kita dapat menanami rumput belanda atau rumput hias lainnya, usahakan agar air dapat mudah terserap ke tanah. Kita dapat memulai untuk menanam beberapa pohon disekitar rumah, jika ingin mendapatkan manfaat ganda, tanamlah pohon buah, entah itu mangga, rambutan, jambu, belimbing atau yang lainnya sesuai selera kita.

 

Hal mudah lainnya adalah kita harus mulai untuk memperhatikan sampah yang kita hasilkan dari aktifitas rumah tangga, coba sedikit kita amati kemanakah sampah itu akan berakhir, ke tempat pembuangan akhir (TPA), ke halaman belakang rumah yang tanahnya kita lubangi untuk tempat sampah, atau jangan-jangan malah ke sungai. Membuang sampah disungai adalah salah satu kejahatan lingkungan, kenapa? karena sampah itu akan menghambat aliran, minimal para petani dan pemilik kolam ikan akan sangat kesal dengan perbuatan ini, lebih jauh lagi mungkin sampah kita adalah pembawa racun, sehingga tidak saja menghambat aliran, sampah kita juga dapat mematikan tanaman dan habitat disekitar sungai.

 

Maka mulailah untuk memisahkan sampah yang kita hasilkan dari rumah tangga. Jika sampah itu organik, dapat diurai, kita dapat langsung timbun ditanah. Namun jika anorganik tidak terurai, kita dapat membakarnya sehingga volumenya menjadi sangat kecil untuk kemudian baru kita timbun.

Langkah mudah lainnya adalah kita harus mulai menghemat energi baik itu dirumah, disekolah atau dikantor. Kurangi konsumsi listrik dengan mengijinkan sinar matahari masuk. Kurangi konsumsi pendingin ruangan dengan membuat sirkulasi udara yang baik. Jika jarak tempuh terjangakau, usahakan agar tidak menggunakan kendaraan, jalan kaki atau naik sepeda adalah pilihan yang sangat menyehatkan.

 

Apabila kita memiliki waktu yang luang, kita dapat ikut bergabung dengan komunitas pencinta alam, tidak hanya yang fokus untuk kegiatan petualangan (adventure) naik gunung, atau jelajah alam, namun juga kegiatan yang sifatnya konservasi lingkungan dan ekosistemnya.

 

Kegiatan konservasi alam sejatinya adalah bagian dari investasi kehidupan. Ini tidak sekedar soal tanam-menanam tapi ini soal masa depan. Ini adalah bagaimana kita mempersiapkan masa depan anak cucu kita. Bagaimana kita menyediakan tempat bagi mereka untuk dapat layak dihuni, layak ditinggali sehingga mereka tidak perlu pergi ketempat lain atau daerah lain. Memberikan kecukupan materi (uang) kepada anak cucu kita memang merupakan sesuatu hal yang penting tetapi jika lingkungan sekitar tidak terkondisikan sehingga nyaman ditinggali maka cepat atau lambat mereka pasti pergi.

 

Sudah banyak informasi kita ketahui bahwa bumi kita sudah sakit, lapisan ozon menipis, suhu udara naik, es dikutub banyak yang sudah mencair, kebakaran hutan dimana-mana, kekeringan, tanah longsor, dan lain-lain. Lantas apakah kita hanya tinggal diam menyaksikan bumi kita rusak sehingga masa depan anak cucu kita tergadaikan? Maka mulai saat ini kita harus berbuat, mari kita tanam pohon, mari kita hijaukan bumi.

 

Salam hijau!

Chania
   72
 
gmbr
Cinque Terre

img img img img
img
img