Cara Melakukan Refleksi Diri di Akhir Tahun
2202-jam-pasir.jpg

Apa yang sudah kita capai ditahun ini?

 

Jika kehidupan kita adalah tangga yang menjulang tinggi, maka setiap tahun yang kita lalui adalah anak-anak tangga kecil yang menyusun titian menuju akhir dari kehidupan. Bisa jadi kita pernah merengkuh 2 anak tangga sekaligus dalam tahun yang sama, namun bisa jadi kita hanya bisa bertahan di anak tangga yang sama sepanjang tahun, bahkan tak jarang kita justru tergelincir turun ke anak tanggal yang lebih rendah.

 

Setiap usaha yang kita lakukan adalah pijakan penting agar kita mampu mencapai anak tangga berikutnya, jika usaha kita kendur tentu pijakan kita menjadi rapuh atau bahkan tidak ada pijakan sama-sekali.

 

Banyak hal yang sudah kita lakukan, tetapi pernahkah kita merefleksikan diri sudah setinggi mana tangga yang kita rengkuh? Apakah anak tangga kita cukup kuat untuk menjadi pijakan ataukah justru rapuh sehingga kita bisa tergelincir jika menapaknya?

 

Akhir tahun adalah moment yang tepat untuk kita berefleksi diri. Banyak rencana yang kita canangkan, banyak usaha kita lakukan, namun sampai dimana pencapaian yang sudah kita raih? Kita harus mulai berhitung. Berhitung disini tidak identik dengan menghitung untung-rugi, tetapi berhitung soal perbuatan-perbuatan  yang sudah kita lakukan, apakah berbuatan itu dapat mendatangkan sesuatu hal positif, membangun, menggugah dan mencerahkan atau justru banyak perbuatan kita yang memiliki efek negatif, merusak dan membuat keterpurukan.

 

Kita dapat mulai berhitung dari beberapa aspek yang melingkupi kehidupan kita, hal ini penting karena kehidupan kita yang harmoni hanya dapat terwujud jika setiap aspek kehidupan dapat kita seimbangkan.

 

Pertama kita dapat mulai dari financial life atau aspek keuangan. Apakah dalam kurun waktu 1 tahun ini kita masih sering mengalami kesulitan finansial?, kita harus utang ke sana kemari atau bahkan jual ini dan itu. Jika iya, selanjutnya mari kita refleksi dimana letak masalahnya, apakah dari pemasukan kita yang terlalu minim ataukah dari pengeluaran kita yang sering membengkak? Incomenya yang kurang atau expensesnya yang berlebihan?

 

Banyak kasus pengeluaran membengkak terjadi karena kita membeli barang yang ternyata tidak benar-benar kita butuhkan, sebagai contoh ketika kita membeli smartphone baru, televisi baru, kulkas, mesin cuci, motor dll. Apakah kita benar-benar butuh, lebih banyak yang mengatakan “biar gak ketinggalan bro...”. Nah, itu lah yang menyebabkan kantong kita kedodoran, disini mari kita bedakaan antara kebutuhan dan keinginan!. Satu hal lain yang sering membuat keuangan cekak adalah adanya kebutuhan yang sering mendadak dan tidak dapat kita prediksi, sebagai contoh anggota keluarga sakit, biaya sekolah anak yang tiba-tiba harus dibayar, perbaikan kendaraan operasional yang ternyata cukup banyak, dan lain-lain. Jika ini penyebabnya maka kita harus menyediakan uang cadangan khusus untuk kondisi tidak terprediksi.

 

Jika penyebabnya adalah pemasukan kita yang minim, berarti kita harus mulai untuk mencari tambahan pemasukan, kenaikan gaji mungkin adalah solusi namun tentu kenaikan ini tidak akan bisa serta merta, ada waktu dan kondisi tertentu yang harus terpenuhi agar bisa naik gaji. Alangkah lebih baik jika kita mulai mencoba usaha kecil-kecilan, kita gandeng istri atau saudara kita untuk menjalankannya.

 

Selanjutnya adalah family life atau aspek keluarga, mari kita hitung berapa banyak waktu yang sudah kita luangkan untuk keluarga? Apakah waktu yang kita berikan merupakan waktu yang berkualitas? atau jangan-jangan hanya sisa-sisa waktu setelah lelah bekerja sehingga celotehan anakpun tidak bisa kita tanggapi.

 

Bagaimanapun keluarga adalah yang paling utama, kita banting tulang bekerja tentu hasilnya adalah untuk keluarga, bahkan ketika kita merasa bahwa tanggungan keluarga sangat berat, ternyata itu adalah suatu kenikmatan tersendiri.

 

Memberikan waktu yang cukup untuk keluarga adalah hal yang harus dilakukan, kehangatan keluarga akan memberikan ketenangan dan rasa nyaman, orang yang dilahirkan dari keluarga harmonis akan menghasilkan pribadi yang tenang dan sabar. Sedangkan orang yang dilahirkan dari keluarga yang berantakan akan menghasilkan pribadi yang emosional dan reaktif.

 

Tak kalah penting adalah kehidupan sosial kita atau social life, sudahkah kita menjadi bagian dari masyarakat yang baik? Apakah kita cukup mengerti dengan kondisi beberapa tetangga dekat rumah kita? Apakah kita sudah memberikan cukup waktu untuk ikut bergotong-royong membaur dengan para tetangga kita?

 

Kehidupan sosial adalah ladang untuk berbuat kebaikan, semakin banyak kebaikan yang kita lakukan semakin banyak pula kebahagiaan yang kita rasakan. Kita semua setuju bahwa hidup ini adalah untuk  mencari kebahagiaan.

 

Aspek lain yang sering terlewatkan adalah kesehatan. Sudahkah kita menghitung berapa kali kita sakit dalam setahun ini? Jika melihat ke belakang, apa penyebab kita jatuh sakit? Cuaca? Makanan? Pekerjaan? atau hal lainnya? Banyaknya waktu yang tersita untuk bekerja demi tercapainya kesuksesan menjadikan kita lupa akan kondisi tubuh sendiri. Seperti siklus, pekerjaan tidak akan pernah ada habisnya, tergantung kita untuk bijak dalam menggunakan waktu bekerja dan menginvestasikan waktu diluar pekerjaan seperti : olahraga, mengonsumsi makanan yang bisa membuat tubuh tetap sehat, dan tidur tidak larut malam.

 

Aspek lain yang perlu kita repleksikan adalah aspek spiritual atau spiritual life. Aspek spiritual merupakan puncak tertinggi dari kumpulan anak tangga sudah anda lewati, namun alangkah baiknya jika kita melengkapinya dengan meluangkan waktu sejenak untuk merenungi semua yang hal yang sudah Tuhan berikan menjadikan tiap pribadi sadar bukan hanya usaha kita atau dukungan orang-orang di sekitar saja namun juga campur tangan Tuhan dalam tiap anak tangga dalam hidup yang sudah kita lewati hingga kita bisa sampai seperti saat ini.

Chania
   102
 
gmbr
Cinque Terre

img img img img
img
img