Cara Menjadikan Yang Terbaik Sebagai Standar
9653-best.png

Sama dengan keinginan orang pada umumnya, kitapun akan memilih yang terbaik untuk kita miliki atau kita pakai. Jika kita memilih pakaian untuk pergi ke pesta pernikahan atau hajatan yang melibatkan orang banyak tentu pakaian yang kita pilih adalah pakaian yang terbaik, kita akan mengesampingkan pakaian lusuh dan segera melihat pada pakaian terbaru kita. Jika kita diberikan pilihan antara batu akik dan berlian, maka kita akan memilih berlian dan mengesampingkan batu akik, selain karena kilaunya yang memukau, nilai dari berlian juga sudah ada standar baku yang dapat kita jadikan rujukan.

 

Memilih yang terbaik adalah suatu keniscayaan, tidak ada orang yang mau dengan sesuatu yang buruk jika pilihan yang lebih baik dapat dilakukan. Setiap barang yang terbaik selalu digandrungi dan dicari banyak orang, bahkan dengan harga yang lebih mahal sekalipun.  Sama dengan barang, hasil pekerjaan pun demikian, hanya pekerja dengan hasil yang terbaik yang akan terus dipakai oleh konsumen, yang tidak baik akan segera ditinggalkan, yang setengah-setengah sesekali akan dilirik dan dicoba tetapi kemudian akan ditinggalkan juga.

 

Oleh karena itu, melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan adalah suatu keharusan, bukan karena kita ingin disanjung atau mendapat pujian, tetapi karena hanya hasil yang terbaik yang dapat menjadi bukti nyata dari pribadi yang terbaik pula. Tak perlu kita woro-woro bahwa kita lebih baik dari Si A atau Si B, kalau hasil dari pekerjaan kita, kwalitas pekerjaan kita, waktu untuk menyelesaikan pekerjaan adalah yang terbaik, maka Si A dan Si B pasti sudah kita lampaui dengan sendirinya.

 

Banyak orang yang malas melakukan yang terbaik karena sudah pesimis dengan hasil yang nanti akan didapatkan, sehingga jangankan melakukan sesuatu yang lebih bahkan mencobanya saja tidak pernah. Seperti pertanyaan motivator kita : “Berapa kali orang gagal pernah mencoba melakukan sesuatu?” jawabannya adalah “Tidak pernah satu kalipun!”. Ya, kebanyakan orang gagal selalu takut dengan akibat-akibat yang ada dalam pikirannya, sehingga akhirnya dia takut untuk mencoba melakukan yang terbaik. Sedangkan orang yang berhasil, dia tidak pernah takut untuk mencoba melakukan yang terbaik meskipun kegagalan sering mendatanginya.

 

Pertanyaan untuk kita adalah apakah kita mau untuk melakukan yang terbaik atau tidak? Apakah kita mau untuk menjadi orang yang berhasil atau tidak?

Chania
   96
 
gmbr
Cinque Terre

img img img img
img
img