Bungkam soal data pengguna Facebook yang bocor, Parlemen Eropa cari Mark Zuckerberg.
799-mark.jpg

Merdeka.com - Kebocoran data pengguna Facebook nyatanya memang bukan permasalahan sepele. Hal ini menyangkut hak privasi setiap orang. Menanggapi hal tersebut Presiden Parlemen Eropa, Antonio Tajani, memanggil CEO Facebook - Mark Zucekerberg untuk segera memberikan klarifikasi atau pun penjelasan mengenai permasalahan tersebut.

Tak main-main, kasus kebocoran ini melibatkan Cambridge Analytica yang ditaksir mencapai 50 juta data pengguna yang bocor. Diduga, hal tersebut digunakan untuk keperluan politik.

"Facebook perlu melakukan klarifikasi pada 500 juta perwakilan bahwa data pribadi mereka tak digunakan untuk memanipulasi demokrasi," tuturnya seperti dikutip dari Tech Crunch, Rabu (21/3/2018)

Permintaan klarifikasi ini dilakukan menyusul permintaan serupa dari pemerintah Inggris dan Amerika Serikat. Sebelumnya, salah seorang anggota parlemen Inggris, Damian Collins, juga meminta Zuck menjelaskan secara langsung apa yang sebenarnya terjadi.

Selain itu, ada pula senator Amerika Serikat, Mark Warner, yang merupakan Wakil Ketua Komite Intelijen, yang meminta Zuckerberg dan petinggi Facebook lainnya untuk memberikan testimoni mengenai peran Facebook yang dianggap melakukan "manipulasi sosial" pada pemilihan umum Amerika tahun 2016.

Di sisi lain, menurut laporan Bloomberg, Federal Trade Commision Amerika Serikat diketahui telah membuka laporan penyelidikan ke Facebook terkait penyalahgunaan data pribadi yang dilakukan pada 2011. Kendati demikian, FTC tak bisa mengungkap seperti apa penyelidikan tersebut.

"Kami tahu tentang masalah yang sedang terjadi dengan Facebook saat ini. Namun, kami tak mengungkap hal apa yang sedang diinvestigasi," tutur perwakilan FTC. Sementara perusahaan yang juga pemilik WhatsApp dan Instagram itu dalam laporannya menyebut pihaknya sangat menjaga kerahasiaan informasi pengguna.

Sekadar informasi, penyelidikan FTC pada 2011 itu dilakukan untuk memastikan Facebook membuat kebijakan privasi yang jelas bagi pengguna. Selain itu, Facebook juga harus meminta persetujuan pengguna sebelum membagikan informasi itu.

Sayangnya, hingga saat ini Zuckerberg masih belum dapat ditemui dan dimintai keterangan mengenai kasus yang melanda perusahaan. Chief Operating Officer Facebook, Sheryl Sandberg juga dilaporkan belum mengeluarkan pernyataan apa pun perihal masalah ini.

Sebelumnya, perusahaan analisis data, Cambridge Analytica (CA), dilaporkan terlibat dalam skandal besar kebocoran data puluhan juta pengguna Facebook.

Perusahaan yang pernah bekerja dengan tim kampanye Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, itu dituding menggunakan jutaan data untuk membuat sebuah program software yang hebat, sehingga bisa memprediksi dan memengaruhi pemilihan suara.

Dilansir The Guardian, Selasa (20/3/2018), seorang whistleblower bernama Christopher Wylie, mengungkapkan kepada Observer The Guardian, bagaimana CA menggunakan informasi personal diambil tanpa izin pada awal 2014 untuk membangun sebuah sistem yang dapat menghasilkan profil pemilih individual AS.

Hal ini dilakukan untuk menargetkan mereka dengan iklan politik yang telah dipersonalisasi. CA sendiri merupakan perusahaan yang dimiliki oleh miliarder Robert Mercer dan pada saat itu dipimpin oleh penasihat utama Trump, Steve Bannon.

"Kami mengekspolitasi Facebook dan "memanen" jutaan profil orang-orang. Kami membuat berbagai model untuk mengeksploitasi apa yang kami tahu tentang mereka dan menargetkan 'isi hati' mereka. Itulah dasar keseluruhan perusahaan dibangun," ungkap Wylie.


Chania
www.000webhost.com